Rabu, 14 Oktober 2015

Racikan Kopi ala Starbucks

Sungguh, social media membawa begitu banyak cerita dan perdebatan yang nyentrik, menarik dan kadang tidak penting. Suatu hari, saya menemukan suatu gambar (meme) yang mendiskusikan kebiasaan generasi muda Indonesia masa kini yang gemar untuk mencuci uang menjadi sebuah racikan kopi ala gerai kopi multinasional yang cukup fenomenal, namun menjadi berat tangan dan tebal muka saat harus berbagi dengan sesama.

“Kamu itu tidak peka, menghabiskan Rp. 50.000 hanya untuk Starbucks, namun susah untuk melihat keadaan social kita yang dimana banyak orang kesusahan untuk sekedar mencari sesuap nasi.”

“To**l, beli kopi produk asing dibela-belain, giliran nyumbang korban bencana nggak mau. Sampah masyarakat lo!.”

Begitu tulis orang-orang yang melabeli diri mereka berpendidikan, namun dengan mudahnya mendiskreditkan seseorang, melecehkan dengan penggunaan kata yang berkonotasi negative, hanya karena suatu permasalahan yang sebenarnya bisa dibahas dengan intensi yang baik-baik. Memangnya apa salah orang tersebut? Apakah membeli segelas kopi merupakan sebuah dosa besar dan dapat diasosiasikan dengan anggapan bahwa generasi muda Indonesia, yang gemar menenggak starbucks, adalah golongan individu yang begitu rendahnya, dianggap tidak peka dan pantas untuk dihina? (harap dicatat saja bahwa saya tidak suka kopi karena kepahitannya yang merontokkan semangat saya untuk menenggak tetesan selanjutnya)

Tidak, saya tidak mau memperdebatkan masalah hak individu manusia untuk mencapai apa yang dia mau, ataupun membela mereka yang berkata bahwa kesetiaan, kepekaan social harusnya lebih diutamakan ketimbang memenuhi fantasi pribadi yang tidak menghasilkan kontribusi positif terhadap sesama. Mendebatkan hal itu akan menjadi suatu tulisan yang tidak selesai-selesai; hampir mirip ketika Homo Sapien memperdebatkan awal mula ayam dan telur. Namun sebagai catatan saja, saya menganut sebuah pandangan, yang sedikit-banyak mengadopsi pemikiran utilitarianisme ala Jeremy 
Bentham, bahwa hak adalah suatu privilege yang menjadi elemen absolut sebuah individu; kita tidak berhak untuk mengganggu, apalagi mencabut hak tersebut. Namun, dengan satu syarat, praktik hak tersebut tidak mengganggu, ataupun merugikan kepentingan orang banyak/umum sehingga saya percaya bahwa hak manusia setidaknya harus dibatasi oleh suatu norma, entah itu tertulis ataupun melalui nilai-nilai social yang timbul dari interaksi antar manusia. 

Inspirasi dari narasi Slavoy Zizek

Suatu hari, saya menyaksikan sebuah cuplikan video di Youtube yang berisi tentang narasi dari Slavoy Zizek, seorang social scientist dari Slovenia yang menjelaskan konsep ideology. Saya juga tidak ingin membahas tentang ideology, karena saya sendiri juga masih bingung dengan konsep tersebut, namun saya ingin membahas sedikit tentang strategi penjualan kopi ala Starbucks, yang juga dijadikan sebagai contoh oleh Zizek dalam video tersebut; bagaimana secangkir kopi dapat mempengaruhi sedemikian banyak individu, terutama di Indonesia, untuk menjadi sebuah ‘pecandu’ yang rela untuk menghanyutkan uang setidaknya sebesar Rp. 40.000 (yang di Indonesia bisa dijadikan sebagai ongkos makan selama 1 hari) demi merasakan racikan kopi dalam sebuah wadah gelas kecil yang tidak lebih besar dari wadah Popmie.

Starbucks mahal, lalu?

Suatu waktu, saya pernah menemani seorang kawan untuk membeli kopi di salah satu gerai Starbucks di Indonesia. Di sekeliling etalase kasir, banyak tulisan-tulisan bernada informative/persuasive seperti “Dengan membeli kopi di sini, anda sudah turut menyumbang … rupiah sebagai donasi ke petani kopi di …” ataupun “Bantulah anak-anak di … supaya berpendidikan melalui donasi yang anda buat melalui secangkir kopi yang anda beli.” Apa yang salah dengan tulisan tersebut?

Tidak, tidak ada yang salah, sepertinya. Dalam hemat saya, tulisan-tulisan tersebut secara tidak sadar telah mempengaruhi kerja alam bawah sadar kita bahwasanya membeli kopi di Starbucks adalah hal yang baik. Dan lebih jauh lagi, kita mulai berpikiran bahwa mengeluarkan uang sebesar Rp. 40.000 akan terasa tidak menjadi masalah karena selain mendapatkan kopi, kita juga turut membantu mereka yang membutuhkan. 

Mengadopsi pemikiran Steven Lukes mengenai Three Dimension of Power, saya rasa apa yang ditunjukkan oleh Starbucks merupakan sebuah contoh nyata dari aplikasi power dimensi ke-3; mempengaruhi pikiran, mengontrol sesuatu menjadi dalam jangkauan sang empunya power, melalui sebuah tindakan yang tidak langsung (indirect).  Beberapa orang juga mengatakan bahwa praktik power dimensi ke-3 adalah suatu bukti dari kelicinandan kelihaian sang empunya power untuk memposisikan (framing) suatu agenda supaya dapat menghasilkan hasil yang menguntungkan bagi pemegang power.

Mari kita kembali ke masalah Starbucks. Racikan kopi yang diming-imingi oleh pesan yang cukup heartwarming seperti diatas, menurut saya, adalah suatu praktik yang memprihatinkan untuk mewajarkan suatu tindakan yang seharusnya bisa dikategorikan sebagai tindakan yang (seharusnya) bisa dibatasi; konsumerisme. Strategi semacam itu menjadi sebuah titik dimana kesadaran social seperti dicabik-cabik oleh kepentingan ekonomi bagi sebagian golongan. Apakah kita tahu bahwa mereka akan benar-benar dibantu oleh Starbucks? Apakah kita punya akses informasi untuk melacak kemana uang kita pergi? Jawabannya; tidak, atau hampir tidak mungkin. 

Saya tidak memposisikan mereka, consumer Starbucks, sebagai manusia yang berperikemanusiaan rendah. Saya merasa bahwa mereka adalah korban dari arus kapitalisme dan konsumerisme, dan juga korban dari kekuatan korporasi dunia yang begitu kuat dalam konteks ekonomi, social dan bahkan politik. Nah, ketimbang menghujat mereka yang masih getol melahap kopi Starbucks – yang dimana hujatan tersebut juga membuat kita menjadi tidak lebih baik dari mereka – alangkah lebih baik bahwa kita harus berpikir secara kritis, mempersuasi para pelanggan setia Starbucks untuk mulai menyadari bahwa apa yang mereka selalu puja selama ini tidaklah jauh berbeda dari raksasa korporasi rakus yang hanya mengedepankan ekonomi sebagai motif usaha. Susah memang mempengaruhi orang-orang, apalagi ketika mereka berlindung di balik ucapan logis namun egois “suka-suka gue dong, duit-duit gue.” Namun setidaknya, marilah kita berpikir; apakah guna kita hidup bila manusia lain tak merasa manfaat dari lahirnya kita di bumi ini? Sebagai penutup, sebuah ucapan dari Buya Hamka, seorang tokoh di bumi Nusantara, layak menjadi sebuah bahan evaluasi kita bersama; “Kalau hidup hanya sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. …”

Salam..

Minggu, 04 Oktober 2015

Life ain't Cruel Back Then


Missing the day where all I care is only my grade, myself, and mostly having fun the entire day. I am blessed to grow in a perfect and supportive circumstance like this. I hope we all can achieve what we really want to be in the next 10 or 20 years!

Sabtu, 03 Oktober 2015

Catatan dari Brighton Beach, Melbourne

Jika berkunjung ke Melbourne, atau kota-kota lain di dunia ini, anda pasti akan mencari barang satu atau dua tempat ikonik yang akan menemani jurnal perjalanan dan menjadi secuil kenang-kenangan yang akan abadi untuk diingat. Nah, untuk kalian yang ingin mencari spot ikonik dan 'OZ' di Melbourne, tidak ada salahnya untuk berkunjung ke Brighton Beach!

Salah satu sudut Brighton Beach yang cukup fotogenik. Selain air, pasir dan aroma pantai, anda juga dapat melihat panorama pusat kota Melbourne sebagai latar belakang. Stunning!
Bagaimana cara untuk mencapai Brighton Beach?
Anda tidak perlu repot-repot untuk membawa/menyewa kendaraan pribadi untuk mencapai area ini. Kekaguman harus kita haturkan kepada sistem transportasi publik kota Melbourne dan negara bagian Victoria yang sangat baik, efisien, menyeluruh dan terintegrasi dengan baik.

Untuk mencapai Brighton Beach, anda bisa dengan mudah menumpang kereta Metroline (Metro) dari stasiun utama Flinders Street Station yang menuju ke arah 'Sandringham'. Setelah menumpang kereta tujuan Sandringham, anda harus turun di stasiun 'Brighton Beach Station' dimana perjalanan ini hanya memakan waktu kurang lebih 25-30 menit. Lalu, dari tempat anda turun, anda hanya harus berjalan sekitar 5 menit untuk mencapai area pantai. Garis pantai dari Brighton Beach ini cukup luas, mungkin membutuhkan waktu sekitar 30-35 menit untuk menyusuri bibir pantai.

Kereta Metroline ini berwujud layaknya KRL di Jabodetabek dan mencakup hampir seluruh area di negara bagian Victoria. Frekuensi keberangkatan bervariasi antara 10-30 menit (tergantung waktu dan kepadatan). Selain kereta, anda juga bisa menumpang Bus dengan nomor trayek 216. Namun sayang, penulis belum memperoleh data yang cukup mengenai trayek bus tersebut.


What to see and what to do?
- Berfoto

Salah satu bathing house yang bermotif kangguru, hewan endemik negara ini dengan balutan warna hijau-kuning ala Australia

Fitur utama yang membuat kondang Brighton Beach ini adalah keberadaan sederet 'bathing house' yang biasa disewakan kepada para pengunjung sebagai tempat singgah. Keunikan yang ditawarkan dari bathing house ini terletak pada corak dan desain yang unik dan berbeda sehingga banyak digunakan sebagai spot berfoto oleh para wisatawan/pengunjung.

Deretan bathing house yang siap menjadi background kreasi fotografi para pengunjung

Ada lebih dari 60 bathing house dengan corak yang berbeda. Jika anda tertarik, mungkin anda bisa berpose di setiap bathing house yang tersedia namun siap-siap saja untuk sedikit kelelahan karena harus berjalan cukup jauh! Sayangnya, penulis belum menemukan informasi mengenai biaya untuk menyewa bathing house tersebut. Walaupun harus berjalan cukup jauh, keunikan yang ditawarkan pantai ini cukup berkesan di hati.

- Berjemur atau piknik bersama orang terkasih

Bibir pantai di Brighton Beach, Melbourne yang siap menyambut pengunjung

Disini, tentu kita tidak bisa menjumpai keindahan natural biota laut ataupun pemandangan eksotis ala pantai-pantai di Bali, Lombok, Papua ataupun di area Pantai Selatan Jawa. Tentu saja perasaan menapaki pasir putih lembut di pantai area Gunungkidul, Yogyakarta, terasa lebih alami dan membuat kita merasa lebih menyatu dengan alam. Nah, di Brighton Beach, walau situasinya masih tidak lebih cantik dan alami ketimbang pantai di Indonesia, tempat ini sangat cocok untuk sekedar berkumpul bersama teman atau memadu kasih dengan tambatan hati yang kerap dirindu. Derai ombak, alunan sinar matahari di musim semi yang tidak terlalu panas dan sebotol minuman dingin beserta bekal akan membuat kalian mendapatkan 'quality time' yang sangat berkualitas dengan orang yang anda inginkan!

- Menikmati sunset dan merenung



Setelah menjalani rutinitas yang kadang memenjarakan hati dan pikiran, tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk sekedar duduk atau merebahkan diri di pantai ini. Saat hari kerja dan sebelum matahari terbenam, pantai ini tidak terlalu ramai sehingga menjadi tempat yang ideal untuk merefleksikan perjuangan anda hari ini. Dari tempat manapun di dunia ini, sang fajar yang menuju lelap akan terlihat sama. Namun, rasa dan pergolakan batin yang anda rasa akan membuat semua menjadi berbeda. Ketimbang mengeluh ke matahari terbenam sebagai pertanda untuk menjalani rutinitas yang sama esok hari, penulis lebih memilih untuk menjadikan momen ini sebagai ajang untuk mengevaluasi dan menghukum diri atas segala hal yang terjadi di kala fajar masih terlihat jelas di langit.

____________
@danisfahreza