Kamis, 22 September 2016

That’s just the Beginning

This is the final day.

Guess who’s standing there waiting for me in the opposite line?
Yes, it’s him. My dearest friend and my back court partner back in junior high school.

---

Back to my first engagement with real basketball stuff in junior high school, I noticed one guy who possessed nothing at basketball but so much intensity in his eyes. I just realized that he was not that familiar with basketball stuff. My first assumption was that he would only care to join the basketball team as it was the way for him to elevate his name in front of the girls in my school.

What a cliche, right?

However, there is no such thing which we can predict accurately that exist in this world.
After one month training, he turned to be one of the toughest guys in my middle school team. Furthermore, he and I were started to develop one bond that still remains mysterious until today. By the term of mysterious, I describe it as a situation when I don’t really give many shits about what he did in school but once we stepped into the court, we talked a lot about the game, and we really know each other well.

He was really destined to be good in this sport; he grew to be quicker, stronger and faster than anybody else on the team. He also developed a very smooth layup gesture, in which he often utilize it to get an and-one play during the match. As soon as I, a skinny boy, realized how good he could be for the better of the team, I began to be his facilitator. Although he didn’t really talk about it, I can feel that there is a tendency that we’ll need each other when we stepped on the court; mutual respect.
Three years in middle school, I couldn’t remember how many trophies that we got for our school. We were simply unstoppable; we have a very strong roster which rely on speed, fast-break point, defense and also our main guy. I think I have to admit that he really carried us all day during our glorious campaign. He transformed into such a prolific scorer and setting the high standard through example.

And I transformed into the second guy in the team. I was developing into a like-able play-maker due to my unselfishness and attitude in the game. Dude, if you really respect the game as you have to be, you would earn so much respect from other players, coaches, refs and also the crowds. Not only have that, I think I was also popularizing ‘teardrop’ move that day among my generation in the town. Realizing that my body won’t allow me to have much contact with the big man inside, I developed my floater and acrobatic layup into another level. At just 14 years old, I used to throw floater from the free throw area and it’s a magic! It falls to the bucket most of the time!

When the graduation day come, we went for our last ride in local tournament in the town. It was a sweet ending for my middle school journey; we went to the 1st place after beating the team that gave me my first loss back in my first year. Not only that, our main guy also unanimously win the MVP award and surprisingly, he dedicated it to all of the players in the team. I was really impressed.

Soon as we have to choose our path for our high school, I was interested to know that I would went to the same high school as he did. However, after several consideration, I decided to discontinue my enrollment process and decided to attend a newly established private school across the town (which my parents thought it would be better for my future). Like usual, we didn’t really talk a lot about it. But one thing for sure, he and I both know that this was just the beginning of our sensational meeting in the future. 

Rabu, 21 September 2016

Nasihat kepada Rumput-rumput Hijau

Teringat dulu kala suara meraung
Karena intelektual kami dipasung
Seakan bukit yang terhimpit dua gunung
Dengan dalih demokrasi yang hanya seumur jagung


Matahari merayap langkah kaki menghentak
Jalanan runtuh di kala pemuda berontak
Bohongi ayah bohongi ibu
Agar mereka bisa bebas dari belenggu


Satu dua kali kami tak takut
Bagai tombak dan peluru kami bukan pengecut
Menangis darah semua berteriak
Karena memang kami menghadapi maniak


Telah tua badan ini kini terbujur
Namun kini kalian bisa tumbuh subur
Kanan kiri balik kanan lagi tak ada yang peduli
Ini zaman mu, saatnya kau tunjukkan nyali


Maka dengarkanlah barang sebentar, kawanku
Tak mau aku menuntut barang yang semu
Jangan kau terbelenggu oleh tingkah saudaramu
Yang merdeka namun hidup seperti batu

Basketball Without Border

Hi guys...
This article tells you how sport can contribute toward peace in its own way.. I hope you enjoy the article!

Selasa, 20 September 2016

Imaji Manusia tak Berjiwa


Dik,
Jangan bangunkan aku esok pagi
Jika senyum belum menyinari
Jika tawa hanyalah refleksi iri hati


Dik,
Aku tak sudi menatap mentari
Jika bencana masih melanda negeri
Lebih baik aku tetap mati suri


Dik,
Bunuh saja aku malam ini
Saat merdeka masih sekedar imaji
Dan keserakahan menjadi bukti


Dik,
Serahkan saja ragaku disini
Sudah tua jiwa ini mengabdi
Untuk ia sang ibu pertiwi


Dik,
Lama nian aku telah berjanji
Ku yakin harapan itu pasti terjadi
Ketika aku bangkit nanti dari mati




Olahraga sebagai Bahasa Perlawanan

Catatan: Tulisan ini dimuat terlebih dahulu di website www.mainbasket.com dengan link http://mainbasket.com/2016/09/olahraga-sebagai-bahasa-perlawanan-depok-butuh-gor-basket/ kunjungi website mainbasket untuk terlibat lebih dalam perkembangan basket di Indonesia!
Ketika lagu kebangsaan Amerika Serikat ‘The Star-Spangled Banner’ berkumandang sebeum pertandingan olahraga American Football akhir Agustus lalu, ada pemandangan menarik di antara para pemain serta penonton yang menyanyikan lagu kebangsaan tersebut dengan khidmat. Colin Kaepernick, seorang pemain quarter back NFL (liga nasional untuk olahragaAmerican Football di AS) dari tim San Francisco 49ers memilih untuk tetap duduk sepanjang lagu kebangsaan itu dinyanyikan seluruh isi stadium.
Bukan hanya sekali, Kaepernick mengulangi hal tersebut di pertandingan selanjutnya. Di kesempatan lain, ia juga terlihat menggunakan kaos kaki bermotif polisi dengan kepala babi, sebuah kritik akan fenomena korupsi di kepolisian Amerika. Sontak saja, kelakuan tersebut mendapat respon yang beragam dari seluruh publik Amerika, termasuk para politisi, penonton, petinggi NFL hingga beberapa rekan setimnya. Bahkan, calon presiden Amerika dari partai Republican, Donald Trump, juga turut berkomentar bahwa Caepernick seharusnya mencari negara lain yang cocok dengannya ketimbang melecehkan lagu kebangsaan.
Selidik punya selidik, tindakan Kaepernick tersebut adalah buntut dari rasa frustasinya terhadap tindakan penindasan dan pelecehan rasial terhadap komunitas Afrika-Amerika (African-American) di seluruh penjuru Amerika. Memang dalam beberapa bulan terakhir, penangkapan tak berdasar, penembakan serta sentimen negatif terhadap komunitas Afrika-Amerika sedang memuncak.
“Aku tidak akan berdiri dan menunjukkan rasa kebanggaan terhadap negara yang masih menindas orang kulit hitam dan orang non-kulit putih lainnya,” terang Kaepernick mengenai tindakannya tersebut. “Sekali lagi, aku bukan orang anti-Amerika, aku melakukan ini karena aku ingin Amerika menjadi tempat yang lebih baik.” Tambahnya lagi.
Jika Donald Trump saja ‘boleh’ melecehkan secara eksplisit orang-orang imigran serta lawan politiknya, mengapa tindakan Kaepernick yang memperjuangkan keadilan ini justru dihujat?
Perlawanan yang dimaksud di sini merupakan sebuah upaya nir-kekerasan yang diinisiasi oleh pihak di luar institusi politik dan bebas dari embel-embel kepentingan politis. Dalam sejarah modern AS, memang bukan kali ini saja olahraga menjadi sebuah platform yang digunakan sebagai wadah perlawanan terhadap ketidakadilan. Kejadian yang paling tenar tentu saja ketika dua atlet lari Amerika, Tommie Smith dan John Carlos, mengepalkan tangan ke udara saat pemutaran lagu kebangsaan AS di Olimpiade 1968 sebagai simbol pergerakan sosial komunitas Afrika-Amerika kala itu.
Lalu ada pula petinju legendaris Muhammad Ali yang kala itu rela kehilangan lisensi tinju-nya karena menentang habis-habisan program wajib militer warga AS untuk dikirim menuju medan perang di Vietnam. Di akhir milenium pula Ali dan beberapa pesohor lainnya tergabung dalam gerakan sosial multinasional Jubilee 2000, yang bertujuan untuk menghapus hutang-hutang negara berkembang, dimana ia dan Bono, vokalis grup band U2 berhasil mendesak pemerintah Amerika saat itu untuk mengucurkan dana jutaan dollar ke negara berkembang untuk mengatasi pandemik HIV/AIDS.
Berkaitan dengan olahraga basket, perlawanan sempat muncul di seantero liga NBA beberapa tahun silam ketika pemilik Los Angeles Clippers, Donald Sterling, mengeluarkan komentar bernada rasis terhadap pemain keturunan Afrika-Amerika. Sontak saja, banyak tim, termasuk Cleveland Cavaliers, Los Angeles Clippers, Houston Rockets dan Portland Trailblazers sepakat menggunakan aksesoris basket bernuansa hitam selama pertandingan sebagai bentuk protes.
Usaha ini berbuah manis ketika NBA akhirnya menjatuhkan larangan seumur hidup untuk tidak terlibat dalam kegiatan basket bagi Sterling, yang membuatnya harus merelakan kepemilikan Clippers beralih ke tangan Steve Ballmer, mantan CEO Microsoft.
Pada kesempatan lain, empat sekawan; Lebron James, Carmelo Anthony, Dwyane Wade dan Chris Paul bersuara lantang di acara tahunan ESPY Award 2016 untuk memprotes keras perlakuan kekerasan polisi terhadap komunitas Afrika-Amerika di Louisiana.
“Kami berdiri di sini untuk memperjuangkan peran kami dalam mempersatukan komunitas (di AS),” ujar Chris Paul mengenai keputusannya beserta tiga kawannya untuk mengambil tindakan sebagai simbol perlawanan.
Masih banyak lagi kisah perlawanan sosial di bagian dunia lain yang memanfaatkan olahraga sebagai platform untuk meningkatkan kekuatan perlawanan tersebut. Apalagi dengan popularitas yang dimiliki oleh atlet, sikap mereka bisa menjadi suatu katalis untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai ketimpangan-ketimpangan sosial yang ada di sekitar mereka.
Bagaimana dengan Indonesia? Saya sendiri belum menyaksikan banyak perlawanan yang memanfaatkan bidang olahraga. Mungkin, gerakan “Depok Butuh GOR Basket” yang mulai muncul akhir-akhir ini merupakan salah satu pengejewantahan konsep ini.
Walaupun ‘hanya’ menuntut pembangunan GOR basket, hal ini merupakan suatu refleksi yang penting karena tuntutan itu menggambarkan permasalahan bahwa, mungkin saja, pemerintah Depok selama ini justru lebih giat membangun pusat perbelanjaan modern ataupun hal-hal lainnya yang kurang merefleksikan kebutuhan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.
Toh, pembangunan GOR juga nantinya akan berdampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat di Depok karena pasti akan ada banyak kegiatan positif yang dilakukan di situ.
Keterlibatan figur publik serta beberapa atlet basket nasional, dikombinasikan dengan kampanye melalui sosial media, merupakan elemen yang mungkin nanti akan memperkuat efek dari gerakan ini. Entah nantinya akan berhasil atau tidak untuk menyadarkan mereka yang masih kerap bermuka tebal di kantor-kantor pemerintahan sana, gerakan “Depok Butuh GOR Basket” ini bisa kita pandang secara positif sebagai suatu perlawanan dari kelompok masyarakat yang menuntut ketidakadilan dan keganjilan yang terjadi di sekitar kita, serta sebagai penegasan bahwa dunia olahraga juga dapat dimanfaatkan untuk membantu kesuksesan sebuah perlawanan.(*)